Selesai Sudah Merantau; Kini Mulai Merindu


Pengurusan saat masuk kuliah dan skripsi yang menguras tenaga dan kesabaran tapi emang benar apa yang sedang kita capai selalu ada hikmahnya Dan kehidupan merantau yang menguras mental dan lagi-lagi kesabaran, saat tinggal dengan orang lain dan saat ngekos.
Kalo di ingat-ingat dulu kalau galau walaupun sok tegar sebenarnya ada juga menye-menyenya tapi setelah dipikir-pikir ternyata dah dilewati dan perasaan galau yang dulu ya cuman sampe dimasa lalu.Walaupun kesedihan, kegalauan akan tetap dirasakan sebagai ujian atau cobaan dalam kehidupan tapi begitulah siklus kehidupan. Akan selalu dirasakan saat bahagia dan sedih.
Lalu.. soal teman-teman kuliah.. Alhamdulillah Allah swt memberikan teman-teman yang begitu baik.. lebih banyak yang baik.. dan merekalah tempatku cerita dan mengurangi kegalauan bahkan tempatku meminta tolong. Entah kapan Aku bisa bertemu teman kuliahku lagi, tapi Aku tahu kehidupan ini lebih kecil dari daun kelor, Aku tahu kita akan berjumpa, maka itu bukan perjumpaan terakhir tapi Aku yakin akan ada pertemuan-pertemuan selanjutnya yaa entah kita ketemunya dimana tapi Aku percaya sama Allah swt. Allah swt. tetap akan mempertemukan kita semua ces… hehehehe.
Juga tentang keluarga.. saat masih ditempat perantauan, Aku tidak tahu apa yang terjadi disana.. apa yang sedang dibicarakan keluargaku dirumah (Poso), apa yang menjadi kerisauannya tentangku disini.. Aku tidak tahu mereka sedang kekurangan apa karena yang mereka cerita hanya tentang kebahagiaan mereka disana. Dan begitulah keluarga, meskipun aku tahu pasti tidak selamanya keluargaku bahagia, dan aku tidak bisa berkata banyak seperti sebelumnya tentang kuliah dan teman-teman. Tentang keluarga lebih singkat,
Dan Makassar adalah kota perantauan pertama, biasanya kita sering dengar bahwa kehidupan di kota besar itu keras.. ia tapi kalau kita tahu membawa diri dan tahu bersabar insya Allah kerasnya kota besar bisa kita lewati dengan kuat. Kota besar itu memang menguji mental namun membuat kita berpikir terbuka dan bisa mengerti dengan proses kehidupan juga karakter manusia yang berbeda-beda.
Pasti Aku akan rindu kota Makassar ditahun 2014–2018 bersama orang-orang yang ada ditahun-tahun itu dan ingin rasanya kembali kesana, kembali merantau untuk merasakan serunya menjadi anak perantauan. Ya.. mungkin suatu saat jika memang rencana Allah swt. Aku akan kembali merantau tapi ketahuilah suasana dan orang-orang yang akan ditemui ditempat baru tidak akan sama dengan tempat sebelumnya. Ujian atau cobaan mungkin akan sama, yang dirasakan juga mungkin akan sama yaitu senang dan sedih tapi sebabnya senang, sebabnya sedih, hal apa yang sedang diuji atau hal apa yang dijadikan cobaan tidak akan sama, kalopun sama yaa.. lagi-lagi suasana dan orang-orangnya itu beda.
Aku senang bertemu banyak orang disini, padahal kita berbeda daerah dan suku. Aku senang menjadi teman mereka, Aku senang mereka adalah dosenku, Aku senang UIN ALAUDDIN adalah kampusku, Aku senang dengan tempat kakiku pernah berpijak, Aku senang hal-hal yang aku alami disini. Karena semuanya ada hikmahnya, memang benar.. Allah swt. akan selalu memberikan kita pelajaran, kalo kita bisa memetik hikmahnya.
Katanya rindu itu berat.. katanya rindu itu candu.. tapi menurutku rindu itu kenikmatan. Tanpa rindu mana bisa Aku mengenangnya, mana bisa Aku bersyukur dan mana bisa Aku bahagia.
Rindu.. kalau kita tahu menikmatinya, bukan kegalauan yang akan dirasakan tapi rasa syukur yang akan jadi alasan Aku akan selalu mengenang dan berterima kasih pada Allah swt.
Yah.. tuh kan.. jadi rindu..Rindu.. disegala hal yang terjadi di Makassar
Rindu.. pada orang-orang yang jadi bagian dari kenanganku di Makassar.
Ku sudahi tulisanku pada malam ini dengan kerinduanku yang entah kapan lagi akan datang.. yaa.. begitulah rindu, aku paham.. akan selalu datang

Komentar