Rezeki datang dari mana saja, dari siapa saja, dari cara yng tidak terduga.

Saya ingat dengan cerita pengalaman kerja dari seorang sahabat saya, dia itu my bestfriend. Lebih dari sahabat pokoknya lah. Waktu itu saya tanya, bagaimana kamu bisa dapat info kerja itu? Terus dia jelaskan panjang persegi
She : waktu itu teman saya tanya, ada sepupunya yang mau ke poso jadi lagi nyari kosan atau penginapan untuk beberapa hari, nah saya bilang tinggal dirumah saja mumpung kamarku kosong karena belum balik ke poso (she kuliah merantau) tapi ternyata kakak itu ndak jadi nginap tapi dia tetap bilang makasih. Nah terus, tiba tiba kakak itu telpon saya lagi, katanya di kantornya lagi cari pegawai kontrak selama seminggu karena waktu itu saya sudah ajak nginap dirumah jadi dia balik ajak saya ikut kerja di tempatnya sambil ngisi waktu kosong
Menurut kita cerita itu biasa saja dan hal yang lumrah yang biasa terjadi
Tentang sahabat saya, rezeki datang dari mana saja, dari siapa saja, dan dari cara yang tidak terduga bisa jadi dari silaturahmi kita
Kita mana tau rezeki kita akan datang dari mana, ditempat apa, disuasana apa. Dari siapa, orangnya dikenal, gak dikenal, temannya keluarga, orang yang ditolong. Cara yang tak terduga, karena pernah menolong, karena pernah berkenalan, karena pernah satu sekolah. Tapi rezeki itu bisa jadi dari silaturahmi yang kita lakukan, membuka silaturahmi kesemua orang lalu menjaga silaturahmi itu
Sempat gak kita memperhatikan kenalan bapak dan ibu kita, kok banyak banget ya ada disana dan disini. Pasti kita anggap wajar, ortukan orang kerja jadi wajarlah banyak kenalan. Atau teman yang berorganisasi, wajarlah mereka kan seorganisasi atau yang paling umum pegawai bank, wajarlah merekakan nasabahnya. Tapi pasnya mereka cerita, ia itu teman ibu waktu kuliah, ia itu temanku waktu di organisasi A, ia itu nasabahku yg udah 5 tahun.
Bukan dari wajarnya mereka punya banyaknya kenalan tapi dari bagaimana mereka menjaga silaturahmi dan membuka silaturahmi itu.
Yang paling biasanya lagi, penjual/pedagang, ia itu langganan saya sudah 6 tahun. Wajarkan ya namanya pembeli, tapi kenalan karena urusan kerja dan silaturahmi itu tetap dijaga, mereka bukan lagi kenal karena kerja tapi malah bisa jadi keluarga
Ternyata silaturahmi benar bisa membuka pintu rezeki kita. Rezeki itu bukan hanya tentang uang tapi kerja, punya teman yang baik, dalam bentuk barang, dan lainnya.
Pada Surah An-nisa Ayat 1 di potongan ayatnya dalam terjemahnya "Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu"
Sering banget kita ngeliat, kok cepat pengurusannya? Ia ada kenalan soalnya. Kok bisa dapat itu? Ia ada kenalan soalnya
Sering banget kita bergerutu, uh kenalan lagi. Tapi pernahkah kita bertanya "kok bisa kenalan?" Pasti ada cerita klasik tapi bermakna yang dia akan jelaskan. "Soalnya dulu saya pernah bantu dia, bukan seberapa sih tapi ternyata malah buat dia ingat saya terus katanya mau balas budi karena kalo waktu itu saya gak ada entahlah dia bisa apa" atau "itu kenalan bapak soalnya bapak dulu pernah ada waktu dia susah walaupun cuman dengar curhatnya tapi ternyata itu bermakna sekali"
Ternyata sebab dia mendapatkan itu berkat silaturahmi dan nolong orang. Atau bukan dia yang nolong dan silaturahmi, malah ortu atau sodara atau teman. Tapi karena kita anaknya, kita sodaranya kebaikan mereka jadi rezeki kita. Tapi karena kita sahabatnya, dia ingat kita yang selalu baik ke dia
Pernah gak, ada orang yang udah ditolong dan nyari kita bukan untuk minta tolong lagi tapi untuk memberikan bantuan/rezeki ke kita untuk balik memberi?
Satu lagi, ingat tetap harus perbaiki niat silaturahmi itu. Pengen silaturahmi tapi ada niat pamrih, niat pengen lebih itu gak berkah dan mungkin saja apa yang kita pengen gak akan kita dapat. Tapi saya masih gak setuju loh dengan sogok sogokan, ia kenalan tapi dibaliknya ada sogok sogokan

Komentar