Dari Dalam Pikiranku, tentang; duniaku, Indonesiaku



Pekerjaan dan bencana



akhir tahun dan awal tahun.
tentang pekerjaanku dan rumah-rumah yang dibawa pergi alam.
“kemana rumahku? dimana rumahku?” yang tertinggal hanyalah tanah kosong tanpa bangunan beratap. yang dulunya ada tempat tidur diatas tanah itu tapi sekarang yang sangat terasa angin berhembus melewati sela-sela pakaian dibadan.
diatas tanah itu dulu mereka melihat ibunya memasak, melihat ayahnya menonton, melihat adiknya belajar berjalan dan merasakan dirinya duduk bermain handphone.
sekarang mereka berdiri diatas tanah kosong tanpa apa-apa.
jangan marah alam membawa pergi harta kita, kita tidak bisa apa-apa.
Indonesia.. sejak menjelang akhir tahun diberikan cobaan bencana hingga di awal tahun. semoga bukan handphone yang kita angkat semakin tinggi tapi kesadaran diri terhadap alam.
saya tidak bisa bayangkan.. saya yang ada di posisi kehilangan rumah beserta isinya. rumahnya yang dihanyutkan air, rumah yang ditelan tanah. bumi melenyapkan.
sesaat pikiranku terfokus pada bencana yang terus datang, Indonesia. bukan hanya pada satu provinsi, bukan hanya pada satu pulau. setelah terfokus pada bencana.. sekarang diriku beralih kembali pada pekerjaanku.
membayangkan dulu diriku, sangatlah egepe.
....




Demo Mahasiswa vs Aparat berjaga; sama-sama viral vidio anarkis


Kita pernah jadi mahasiswa.
ada mahasiswa yang rajin mengeluaran aspirasi rakyat pada pemerintah.
Sebelum kita menghakimi para mahasiswa, mungkin kita patut bertanya dulu pada mahasiswa ini. saat mereka mengeluarkan aspirasinya bagaimana respon pemerintah.
Apakah Menutup pagar dan mengunci pintu atau membuka lebar-lebar pagar dan pintu ruang mereka.
Yang benar-benar mahasiswa pasti paham bagaimana mengeluarkan aspirasi dengan beretika karena mereka sudah jadi Maha Siswa. tapi kalau ada mahasiswa yang langsung anarkis, bisa jadi itu karena ada dua hal. Aspirasi nya tidak dihiraukan bahkan keputusan semakin terdesak untuk disahkan atau yaa mahasiswa gadungan (mengadu domba antara mahasiswa dan aparat, rakyat, dan pemerintahan).
Yaa demo sekarang mulai milenial, ada yang isinya plesetan-plesetan yang lagi viral dan ada nitizen yang mengingatkan mahasiswa pada syariat agama (sangat baik).
Begini, majelis ilmu tentu ada waktunya dan memperbaiki NKRI tentu juga suatu keharusan juga.
Tapi sayangnya, media sosial kita bagaikan kelihaian lirikan mata dan kecepatan tangan.
Yang diedar dan beredar malah vidio mahasiswa anarkis dan aparat yang anarkis. Kita malah dibutakan pada sisi lain, entah mana yang benar.. Mahasiswa atau aparat.
Tapi nyatanya yang kita cari bukan dukungan untuk memperbaiki NKRI tapi menilai mana yang benar, mahasiswa atau aparat.
Mahasiswa yang berdemo tidak ada salahnya, karena tanpa mahasiswa wakil rakyat mana yang mau mewakili suara rakyat ini, para orang tua kita? Hadeuh
Apalagi disaat semakin terdesak seperti ini dimana kita berharap keputusan diTolak bukan diUndur.
Lalu aparat? Mereka hanya menjaga keamanan agar tidak terjadi kerusuhan yang lebih parah. Tapi yaa kita menganggap yang menjaga ini sedang berpihak.
Sadar tidak sih sebenarnya kita ini sedang diadu domba..
Memang baiknya kita berunding, bahkan tanpa perlu ada penjagaan dari aparat dan tanpa perlu mahasiswa berdemo dijalanan. Tapi, nyatanya respon pemerintah bagaimana?
Mata kita tidak buta, kita punya tv, google, youtube dan berita juga sejarah bahkan buku,
kita bisa liat dengan jelas, bisa mencari dengan jelas, bisa mendengar dengan jelas, bagaimana pemerintahan kita. Sampai NKRI begini, sampai rakyatnya begini.
Nyatanya kita diadu domba antara aparat dan mahasiswa, rakyat dan aparat untuk mengalihkan dari gerakan bawah tanah pemerintah yang diam diam terus bergerak.
Saya muak saja liat story yang isinya malah share vidio anarkis kedua belah pihak, lah kenapa tidak share respon pemerintan bagaimana?
Mahasiswa disuruh ke majelis ilmu saja, mahasiswa disuruh berunding sesuai syariat islam. Lah.. mahasiswa ini malah kayak penjahat yang harus diceramahi. Pemerintah sudah sebenar bagaimana?
Bukannya berpihak pada mahasiswa, bukti nyatanya kan memang mahasiswa dianggap anarkis dan harus diceramahi.
(dalam menulis ini, hati saya bertentangan dengan ketakutan saya. Takut takut tulisan ini ada unsur penghinaan, masuk dalam UU IT tapi hati saya merasa ini tulisan yang benar. Semoga saja, tulisan ini tidak kena UU IT. aamiin)

Komentar