Ada Gambar Tidak Ada Suara




dikantor saya dijuluki “Ada Gambar Tidak Ada Suara” padahal di Tv zaman dulu Tidak Ada Gambar Ada Suara.
Julukan itu ada bukan sekedar dibuat saja tapi karena ciri khas saya dikantor sangat pendiam. kalau bukan ikut ketawa-ketawa aja ya diam seribu bahasa. berbicara kalau ada yang ngajak bicara. saya setertutup itu bukan karena tidak mau membaur atau membuka diri ke mereka tapi untuk menghargai mereka yang jauh lebih tua, takut saja kalau saya salah bicara. kalau yang tersinggung itu teman sebaya apalagi teman akrab menurutku gak apa-apa tapi kalau yang tersinggung itu orang tua atau yang lebih tua banget dari saya… aduh gak enak banget
kamu masih ingat gak dengan fase hidup kamu? waktu Sekolah dasar kamu tuh hidup seperti anak kecil? taunya maen.. pas masuk Sekolah menengah pertama kamu mulai masuk difase remaja atau cepat puber gitu nah disekolah menengah akhir masih difase puber deh baru di kuliah fase dewasa kamu atau inshaf.. masih ingat gak dengan fase hidup kamu?
saya masih ingat dengan jelas juga fase hidupku.. sekolah dasar tuh fase bocah polos yang taunya maen dan maen makanya waktu sekolah saya masuk diperingkat 30 mulu.. masuk sekolah menengah pertama baru deh jiwa pengen belajar muncul tapi masih suka maen barbie sampai disemester 2 kelas 2 hihihi… agak berubah sih dengan pola pikir ku yang mulai pengen dapat peringkat dikelas, jangan peringkat 30 lagi tapi peringkat 20. jadi sekolah menengah pertama fase bocah dan puber karena pergaulan yang gak sehat dan keterusan sampai SMA kelas satu karena suatu masalah jadi bertekad gak mau lagi pacaran karena udah kelas 2 mending fokus sekolah aja tapi gak buat saya jadi anak kalem lagi kayak waktu sekolah dasar dulu karena masuklah saya difase jadi KPOPers tapi untungnya fase ini berakhir di semester satu perkuliahan, karena inshaf aja ternyata fanatik sama Kpop itu dosa soalnya fanbase saya mvnya lambang iluminati atau dajjal gitu.. ya udah masuk perkuliahan jadi fase pengen melakukan ini itu berhubung kuliahku itu merantau jauh dari orang tua jadi kayak kaget gitu punya kebebasan tanpa dipantau sama ortu. saya bersyukur sekali saya menikmati dengan berbahagia masa kuliahku, masuk organisasi, ikut lomba ke Trisakti, punya banyak teman, teman-teman yang baik, bertamu ke kampung teman, beberapa kali ke bulukumba jalan-jalan kesana, jalan-jalan dengan teman, bikin acara kumpul-kumpul. tapi tetap aja kebucinanku belum ilang, akhirnya puber itu tetap muncul. memang yaa.. hidup tanpa cinta itu gak afdol. pernah jadi bucin parah. akhirnya ditahun 2017 saya tobat pacaran dan sampai sekarang menjomblo dengan prinsip pacaran setelah nikah aja!
jadi sekarang fase hidupku belajar jadi orang bijak
hahaha…
bukan deng, tapi difase yang males dengan dunia ini, males menanggapi dunia dengan wow.. mulai bersikap tenang dan biasa saja setiap masalah yang ada atau sama orang lain. mungkin itulah kenapa saya dijuluki Ada Gambar tidak Ada Suara karena sangking males untuk ngerespon atau bertingkah lagi. begitupun dengan teman-teman yang masih suka curhat tentang cinta. aduh.. rasanya saya muak banget, masih sebucin itukah kalian sementara saya sudah berganti fase. walaupun saya cukup mendengar saja tapi tetap saja muak mendengarkan kisah cinta kalian… maaf ya.
Jadi, beberapa hari yang lalu seorang sahabatku akhirnya mengeluarkan isi hatinya di ruang chat pribadi kami. setelah berbulan-bulan kami tidak saling bertanya kabar, hanya saling menonton kabar distory sosial media. terkadang saya hanya berkomentar sebait kalimat di storynya tapi setelah itu menghilang lagi.
begini isi chat nya.
saya rindu sama kamu
kadang saya iri sama mereka kalau sempat ngumpul makan bareng terus mereka cerita habis chat tan sama kamu. kadang saya pengen curhat lagi sama kamu. tapi bingung aja mau curhat apa.
hatiku sebagai seorang sahabat pasti bagai tertusuk panah tepat di jantung, sakit. kodenya langsung aja tanpa basa-basi dan didua hari yang lalu juga, seorang teman yang tiba-tiba meneleponku. sebelumnya dia sudah izin mau menelpon.
isi dari pembicaraannya curhatannya semua tentang kehidupannya, tentang pergaulannya, tentang teman-temannya dan kisahnya itu sudah saya lalui. kehidupan pertemanan memang rumit kalau kita ingin selalu terlihat baik.
jadi kenapa malam bisa nulis bukan hanya karena dua hal yang terjadi diatas tapi juga karena vidio baru dari kak Gitasav



ada beberapa pertemanan yang selalu nuntut kita untuk jadi sesuai ekspektasi mereka, garis besarnya selalu terlihat baik. apalagi dikesan pertamanya mereka ngeliat kita sebagai orang bai.
padahal manusia tuh sama saja, pasti akan muak dengan kehidupannya dan bisa sangat haus dengan hal baru yang ingin dia ketahui.
orang yang terlihat baik kadang disalah artikan akan terus-terusan baik. bukan berarti orang baik ternyata muna juga, tapi semua orang pasti punya fase yang akan buat dia muak dengan rutinitas dia, dengan kehidupan dia, dengan yang terjadi dihidupnya, pada akhirnya dia butuh waktu untuk sendirian, ingin mengasingkan diri dari tuntunan perteman yang mau ini dan itu di diri kita. padahal kita juga butuh ruang dan waktu sendirian supaya bisa kembali enjoy dengan hidup. bukannya jadi budak akan ekspektasi semua orang.




jadi pasti semua manusia tuh punya fase masing-masing. entah apakah fasenya sama atau tidak. terkhusus saya si tipe yang mungkin orang-orang mengira saya ini ekstrovert padahal introvert, yang selalu dianggap orang baik yang pada akhirnya akan berubah juga. faseku akhirnya berubah juga. siapa sih yang bisa menebak fase ini? gak ada bahkan diriku sendiri. entah ini karena usia atau kemuakan sama hidup, kayak orang kenyang lalu muntah.
pada akhirnya saya masuk difase yang akan memilah dan milih mana yang bisa didengarkan, mana yang bisa diceritakan, mana bahan cerita yang bisa dibagi untuk bercerita. kebayangkan 6 tahun lebih mendengarkan dan mengalami kisah cinta rasanya jadi muak.
itu semua udah tidak penting lagi untuk masuk dalam list yang bisa didengarkan, diceritakan dan dibagi untuk saling bercerita. fase yang serba malas merespons hal-hal yang berbau bucin.
tapi, ekspektasi semua orang tuh kadang masih sama. padahal fase kita sudah berubah, atau mereka aja yang masih tetap konsisten dengan posisi mereka. sementara saya sudah berpindah fase?




balik ke vidionya kak Gita yang diatas.
didurasi 04.11 adalah bagian yang selalu jadi hal terpenting dihidupku.
kenapa?
kenapa harus insecure dengan sosial media? ya karena bisa dibilang saya orang kecanduan dengan sosial media terutama instagram. dari semenjak saya mengenal instagram sekitar tahun 2015 sampai sekarang, dulu sih belum terlalu aktif maen di instagram tapi saat dua tahunan ini mulai paham fitur asik di instagram semisal di beranda dan stornya saya jadi kecanduan. bisa menghabiskan berjam-jam cuman untuk nonton story oranglah dan kepo di beranda mereka.
pada akhirnya yang saya rasakan instagram hanya memberikan efek 40% manfaat dan sisanya itu malah bikin saya gak bahagia.
sebenarnya pemakaian sosial media itu tergantung dari kita bagaimana memanfaatkannya. hanya saja faktanya karena saya tidak pandai mengontrol diri jadi lebih sering nonton story yang malah bikin saya lupa bersyukur dan selalu membandingkan hidupku jadinya gak pernah untuk bahagia dan merasa kurang.
selain efek ke mental, ngefek juga ke fisik. serius sekarang tuh lebih sering blunder dan suka salah baca chat. karena ya mungkin setiap nonton dan ngescroll yang berfungsi tuh cuman mata bukan otak. mata tuh cuman ngeliat aja males baca. mata tuh rasanya jadi malah juling sangking tangan lebih cepat ngescroll. rasanya ada saraf otakku yang putus.
makanya tuh sekarang untuk yang ke tiga kalinya ngedelete akun instagram, setelah duluan nutup akun fb dan twt tempat ngerocosku.
tapi.. sebenarnya tuh saya masih punya akun instagram ke dua, hanya saja lebih ke privasi bukan publik kayak instagram dulu. sekarang lebih bijak memilih following mana bisa ngasih inspirasi untuk karya karya selanjutnya. kan udah ada WA ruang komunikasi dengan teman-teman juga keluarga.
bukannya sombong gak mau follback hanya saja otakku benar-benar capek ketika story WA dan Instagram tuh isinya sama aja bahkan diberanda, hal yang udah gak perlu untuk dikepoin lagi.




makanya sekarang tuh saya jadi orang yang gak seheboh dulu yang selalu merespon semua hal.
mungkin udah masuk difase yang “udah hidup biasa-biasa saja, sedatar mungkin, gak usah banyak ngomong, gak usah banyak kepo, urus hidup sendiri saja biar tahu bagaimana mencintai diri dan memaknai hidup yang kemarin untuk hari esok”
cukup dengan diam-diam memperhatikan sajalah.

Komentar