Siapa tak menyangka

Seorang Anak laki-laki ku hadang di lorong kecil
Berseragam SMA tak menggendong tas
Malah tersisip rokok tinggal setengah batang
Ku tanya "berapa bungkus sudah kau habiskan?"
"baru satu bungkus"
Ku lirik jam sudah pukul empat sore

Alisnya mengernyit, jarinya memainkan rokoknya gelisah mengingat habis sudah uang jajannya untuk beli rokok
"ku tebak dia selalu membohongi orang tuanya demi rokok sebatang atau sebungkus sehari?"

Anak gadis yang masih memakai rok SMP berjalan lenggak-lenggok gemulai sambil sesekali memainkan rambutnya yang panjang sebahu
Lurus mengkilat bagai iklan sampo
Putih bersinar kulitnya ditambah lipstik pink yang menggoda
"dik, terlalu cepat kamu menjadi gadis dewasa"
"ini urusanku" berbalas tatapan sinis anak gadis itu berlalu tak peduli, "ku tebak dia juga begitu pada orang tuanya"

Punggungku tersandar pada kursi rotan tanpa kasur empuk, walau seharusnya punggung ini harus ku manjakan setelah memikul berpuluh batu bata seharian ini

Siapa tak menyangka,

Ku dengar lagi seruan perintah lalu penolakan kasar didalam rumah
Siapa lagi yang tak pernah ku sangka
Kakak berlalu dengan sorotan matanya yang memerah setelah meluapkan seruan-seruan ganasnya lagi
Pada ibu dan ayah yang suaranya telah melemah menua

Siapa tak menyangka,

Aku yang hanya jadi pemikul batu bata
Malas berpendidikan tinggi
Tapi telah menyelesaikan
Kenakalan remaja dengan bahagia
Memahami pengalaman hidup yang bermakna
Kini
Usai sudah masa remajaku yang badung

Siapa tak menyangka,
Abangku yang gagah berani
Cerdas dan bersemangat
Namun
Telah berbeda dimasa depannya
Sayang, dia dengan jabatan tertingginya
Malah kejam pada usia ibu dan ayah yang telah menua

Aku tak pernah tau standar sukses didunia dan dimata manusia seperti apa

Yang ku tahu, apa itu impian rasa syukur orang tua pada anaknya

Komentar