Waktu yang akan membuatnya paham

seorang adik yang kesal karena si kakak yang sudah beranjak dewasa, memasuki perkuliahan di tengah semester sedang sibuk sibuknya atau sok sibuk sama tugas kuliahnya, adik yang sedang duduk di bangku sekolah menengah akhir hanya memahami kuliah itu sama dengan sekolah

waktu dan mata pelajarannya entah seperti apa, tidak mau tahu

si kakak hanya diam tidak memberika seribu alasan, mugkin kakak paham, adik hanya belum bisa memahami karena dia masih dibangku sekolah, biarkan dia paham sendiri ketika kuliah nanti

tahun berganti...

si adik yag sekarang sudah setahun bekerja dan si kakak yang sibuk sibuknya (lagi) mengurusi pernikahannya sudah sulit membagi waktunya dengan si adik tengah dan si adik paling bungsu. si adik paling bungsu sekarang sudah diakhir semester kuliah, dia ibuk dengan skripsinya tapi sangat membutuhkan perhatian si kedua kakaknya, tinggallah kakak kedua yang bisa jadi pendengarnya, keluh kesahnya

tapi, kakak kedua mulai punya sedikit waktu ketika dia hanya ada ketika jam istirahat kerja dan jam puang kantor yang tidak menentu. adik bungsu yang kadang tiba-tiba saja membutuhkaan kakak-kakanya, di waktu yag tidak terduga mana bisa terhubung dengan si kakak yang punya waktu-waktu tertentu

adik bungsu tentu mulai kesal, siapa lagi yang bisa jadi tempatnya berkeluh kesah membutuhkan perhatian kalau bukan si kakak kedua

...

kakak kedua jadi ingat, betapa kesalnya dia ketika satu satunya yang waktu kuliah tidak ada ketika dia membutuhkannya sekarang. dan kini betapa kecewanya lagi si adik bungsu ketika sedang lelahnya malah kakak keduanya tidak ada

...

terkadang untuk membuat dia paham tidak mesti melalui kata-kata, bisa saja dia berpikir itu hanya alasan

diam dan biarkan dia berkeluh kesah saja didepan kita, dan waktu yang akan membuatnya paham

dia hanya sedang tidak berada di posisi kita, itu sebabnya dia jadi banyak berceloteh

nanti juga dia paham, ketika sudah di posisi kita

terkadang, malah lebih jahat ketika kita balik membentak, menuntut di pahami dengan seribu alasa, ketimbang diam dan biarkan dia berceloteh keluh kesahnya.


Komentar