Saya yang Rumit

Menulis adalah salah satu cara terbaik dan paling benar untuk menyembuhkan sakit dan kesendirian.

sakit apapun itu, termasuk sakit mental. menulislah untuk tuangkan apa yang dalam dirimu rasakan.

ketika sendirian menjadi depresimu, tidak ada tempat yang pas untuk berbagi, menulislah untuk tuangkan segala emosimu.

...

otakku serba kekurangan, ketika akan menulis tentang apa yang diri sendiri rasakan pasti akan sebingung ini. seperti tak boleh untuk bertanya pada diri sendiri

...

sahabat saya datang kerumah tadi, dia berbagi hal luar biasa selama seminggu kontrak kerjanya di Pulo, Ampana.

ia benar, travelling akan membuka wawasan kita. terutama mengunjungi perkampunga dan bertamu di rumah warga.

apa yang dia ceritakan, semuanya ditelingaku menakjubkan dan sosok dirinya yang berhasil membuat saya iri ya.. dia berani dan siap menerima pengalaman barunya itu! tanpa ada yang menghasutinya untuk tidak mengambil pekerjaan itu. mataku juga dibuat kagum-saya juga ingin.

...

ketika mulai berada ditengah tulisan seperti ini, kebiasaan burukku pasti ingin rasanya berhenti menulis dan menghapuskan. otak saya jadi melemah ingin rebahan saja-berpikir hanya merumitkan

tapi, saya harus menulisnya-untuk diriku.

tiga hari yang lalu saya akhirnya membagi curhatku pada seorang sahabat saya melalui kolom chat. mengenai pekerjaan yang mulai membuat saya jenuh-Sangat Jenuh.

sampai akhirnya, entah sahabat saya mulai capek mendengarkan saya mengeluh atau dia sedang sibuk, diapun bertanya..

"Lia maunya jadi apa?"

pertanyaan itu langsung saja menusuk, ini bukan tusukan mengecewakan seperti film sinetron tentang persahabatan tapi menusuk ke diri saya sendiri yang sering mengeluh

tapi sahabat saya benar.. sayapun ikut bertanya.

saya ini maunya apa..
saya ini bagaimana..
saya ini ingin jadi apa?

pertanyaan demi pertanyaan semakin banyak ketika hari berganti, kemarin pun adik sepupu bertanya mengenai cita-cita

"kak lia cita-citanya apa?"

astaga... pertanyaan itu sepertinya jadi pertanyaan paling menyenangkan kalau adik bertanya nya ketika saya masih kecil juga. betapa banyak cita-cita yang saya gapai sampai-sampai sebelum tidurpun saya akan menghayalkannya

tapi, ketika usia telah dewasa kini, cita-cita jadi hal paling menyebalkan. buat apa bercita-cita? lakukan saja sesuai alurnya.. sesuai kemana arus mengalir..

tapi semakin hari saya malah semakin lelah pada diri saya sendiri yang semakin sulit menemukan jalan untuk diri saya

jalan yang pas untuk saya
rumah yang pas untuk saya

ini bukan mencari yang terbaik dan tergagah, tapi ini soal kenyamanan...

saya masih tahu apa yang ingin saya wujudkan tapi pada kenyataan hidup ini, rasanya malah sulit kalau tak berharap pada hal lain saja.

maksudnya, hei.. kubur saja mimpimu dan kembalilah ke dunia nyata!

tapi sayannya bukan ini saya mau! ini malah membuat hidup membosankan!

begini, ini ibarat saya sebenarnya berasal dari mars tapi terpaksa harus hidup dibumi! ini bukan tempatku! inilah yang selalu berteriak dalam diri saya, sampai akhirnya pertanyaan ini sering muncul "kamu ini maunya apa?"

...

apa itu filosofi? saya masih belum paham, walaupun dibangku kuliah saya pernah belajar filsafat hukum

apa itu sastra? saya masih belum paham, walauapun mata dan telinga saya akan terkagum-kagum ketika melihat hal berbau sastra-walaupun tidak paham apa maksudnya

tapi ada faktanya, ketika dibangku SMP saya sering bertanya pada diriku sendiri keika berdiri didepa cermin "kamu siapa?" "kenapa namamu Nurmilia? apa artinya?" "untuk apa kamu dihidupkan?" "dan kenapa Allah Tuhanku?"

pertanyaan itu sering datang namun perlahan saya hilangkan karena sangat mengganggu dikepalaku, ditambah lagi saya percaya waktu itu tidak akan ada yang mampu menjawab pertanyaanku atau saya dianggap aneh atau parahnya gila

...

kakakpun sering berceloteh "kamu tuh masih kayak anak kecil!"

ternyata.. benar. aku belum siap menerima waktu yang telah berlalu cepat. membawa umurku semakin dewasa, memaksa diriku bersikap dewasa, mengharuskanku menjalani hidup sebagai orang dewasa

bukan waktu yang menjebakku tekurung pada masa lalu, tapi aku yang menyakiti diriku sendiri mengurung diri pada masa lalu yang begitu indah, saat itu beban masih dipikul ringan

aku belum siap menjadi dewasa
namun waktu tetap akan berjalan, tidak akan menunggu siap bahkan berheni

...

saya lupa harus menulis apa lagi
nanti saya teruskan kalau sudah ingat

Komentar