Kaum Kelelahan Media Sosial


sudah sering saya merasakan lelah pada media sosial, mungkin sejak tahun 2018.. waktu yang memang pantas saya merasa lelah karena sudah 7 tahun saya bermain di media sosial dengan segala masa yang sudah dirasakan

dari masa pakai caption lebay, ada huruf yang besar kecil, ada digabungkan kata dan huruf. lalu pada masa yang tiap harinya curhat tanpa berpikir dulu. kemudian pada masa yang selalu pamer kebahagiaan yaa seolah-olah saya bahagia.

pada akhirnya saya lelah juga karena tidak menjadi diri sendiri dan berujung pada rasa minder, parahnya jatuhnya itu tidak bersyukur.

ibarat jatuh bangun perasaanku bermain media sosial, kadang baik-baik saja tapi bisa seketika kelelahan dan tiba-tiba bahagia ada media sosial yang menghibur. tapi tetap saja tidak bisa dibohongi, sampai kini masih sering kelelahan dengan media sosial

media sosial yang kini jadi candu jadi sulit terpisahkan dari diri kita dan keseharian ini. ditempat kerja bahkan membutuhkan karyawan yang setidaknya paham mengguakan media sosial untuk strategi pemasaran atau itu bisa jadi salah satu awal yang mudah untuk mempelajari menggunakan website

atas candu media sosia ini, sudah ketiga kalinya ini saya menutup akun saya yang menamakan nama asli saya. karena saya pikir, diakun ini.. di following dan followers saya tidak mendapatkan pelajaran baik yang ada saya hanya terus-menerus mengukur kecantikan, gaya hidup, gaya berpakaian gaul namun simpel ujungnya saya merasa minder dan jarang bersyukur.

jadi saya pikir, media sosial itu hanya membawa dampak buruk.

tapi, ternyata saya yang salah! saya yang mestinya berputar otak.. bagaimana membuat media sosial bisa memberikan hal positive untuk diri saya.

media sosial itu tidak seburuk itu, media sosial juga buatan manusia-hasil ciptaan bukaan tercipta sendiri. jadi kalau manusia yang membuat mestinya kita bisa menghandel penggunaan media sosial kita..

akhirnya saya kembali pada media sosial namun jadi memilah-milah mana following yang bisa memberikan inspirasi. jadi mohon saja, walaupun kita teman akrab atau teman baik tapi upload tan mu tidak memberikan inspirasi positive saya tidak akan memfollowmu. kita baiknya saling menyimpan nomor handphone saja.

nah, seorang sahabat sayapun akhirnya mengeluh pada salah satu media sosial dan beberapa public figur yang hanya (mohon maaf) pamer, dan terkadang sikapnya (mohon maaf lagi) malah memalukan diri sendiri.. menurut sahabat saya.. sekarang media sosial ini sudah tidak berbobot

yaa.. memang itu benar, makanya saya mulai muak. tapi permasalahannya begini, beberapa public figur yang stay disini membuat tontonan yang aman. maksudnya lebih baik membuat tontonan yang (mohon maaf sebesar-besarnya) tidak berbobot.

dan kitapun tidak bisa sepenuhnya menyalahkan public figurnya karena permasalahan yang paling benarnya, si penontonnya yang malah lebih suka menonton tontonan yang (mohon maaf) tidak berbobot, katanya lebih terhibur ketika menontonnya.

yaa kalau saja si penonton sadar dan memberikan tanggapan (unlike) bisa saja public figur akan memutar otak untuk mencari konten yang berbobot.

karena SEBENARNYA, ada banyak kok publik figur yang memberikan tontonan berbobot yang stay disini atau berada di luar negeri TAPI sayangnya KITA nya saja yang tidak pernah mencari TAHU.

kalau dibilang tidak se-terkenal para public figur yang "itu" tapi faktanya public figur dengan konten berbobot juga terkenal.

yaa.. media sosial sudah jadi bagian dari keseharian kita, ibarat telah menyatu dengan diri. jadi, bagaimana kamu menggunakan media sosial adalah tergantung dari kamunya. bukan si yang pembuat konten.

Komentar