Perjalanan Dalam Bis

Jarak tempuh kampung halaman dan tempat kuliah memakan waktu 1 hari 1 malam. Berangkat pagi ini, subuhnya baru sampai itupun kalau tidak ada kendala di jalan.

Banyak kisah yang terjadi selama perjalanan dalam Bis.  Suka duka, menarik dan menyebalkan. 

Pernah, pengalaman pertama bersama mama untuk menengok kakak yang masih kuliah. Bis yg kami tumpangi mengalami mogok di jalanan yang menanjak, jauh dari perkampungan, sisi kanan hanyalah pohon dan rumput lebat, sisi kiri jurang yang tidak terlihat dasarnya. 

Dua kernetpun turun kembali ke desa yang sudah dilewati tadi untuk mencari bantuan karena jaringan ditempat kami susah sekali dan kendaraan yang lewat hanyalah mobil atau motor. 

Kami penumpang dan driver beserta satu kernetnya terpaksa menunggu bantuan selama 7 jam, untungnya situasi waktu itu siang hari. Tapi tetap saja kami lumayan gerah, lelah dan kelaparan. Ada beberapa penumpang akhirnya menyerah dan menumpang di mobil yg lewat, tapi tetap harus membayar upah menumpang sesuai perjanjian dengan supirnya.

Kami dan beberapa penumpang ada yang memilih bersabar, kami sesekali bercengkrama berbagi cerita atau mendengarkan cerita mereka. Kalau perut sudah lapar yaa kami makan bekal yang kami bawa.

...

Tahun 2014 waktunya melanjutkan study ke jenjang perkuliahan, awal mula yang lumayan banyak rintangan. Karena jam keberangkatan bis yg biasanya jam 8, tanpa diberithu kami dulu dimajukan jadi jam 7 demi lolos buka tutup jalan yang sedang diperbaiki karena longsornya tebing.

Papa, mama, satu penumpang dan sayapun kaget bercampur kesal. Papa mama sempat marah-marah ke agen dan menyuruh supir menunggu, padahal sudah lumayan jauh dari kota. Tapi karena ini jelas salah mereka yang tidak mengkomunikasikan dulu.

Baru kali ini saya melihat, kegigihan papa demi anak bungsunya mengantar ke kota perantauan yg ditinggal bis, sampai-sampai menerobos tukang yang sedang kerja, mendekati aparat yang menjaga jalan dan untunglah papa yang aparat juga jadi sedikit mudah untuk meminta bantuan.

Tapi jantungku jadi tidak tenang lihat kecemasan papa.  Untunglah, bis benar-benar menunggu kami. Papa akhirnya mninggalkan kami dengan pesan yang saya krimkan "pa, bawa mobilnya pelan2 saja kan sdh mau plang". waktu itu mobil yang kami tumpangi dari pinjaman di tetangga

...

Dua perjalanan yang menyebalkan ketika duduk bersama seorang ibu dan anaknya. Jujur saja, saya tetap akan berbaik hati berbagi tempat apalagi untuk ibu dan anak walau seharusnya anak yang masih berusia 3 tahun sudah harus punya kursi sendiri. 

Hanya saja, yg menyebalkannya adalah, si anak yg telah berusia 4 tahun itu sangatlah aktif dan ibupun terlalu mengambil banyak tempat. Meskipun bisa bersbar tapi seharusnya kita mesti saling paham untuk berbagi kursi secara pas. Saya lumayan kesempitan. Yaa menurutku, lain kali ibu ketika membawa anaknya di bis, walaupun harga tiket mahal tapi janganlah pelit untuk membelikan anak kursi juga. Bukan hanya supaya tidak mengganggu penumpang sebelah, tapi biar si anak leluasa untuk tidur terlebih lagi kalau perjalanan memakan waktu lama seperti ini. 

Perjalanan menyebalkan satunya, ketika berseblahan tetangga kursi dengan seorang pria yang entah lebih tua dari saya atau tidak. Dia pria yang sok cakep, cerewet dan sok keren. Uhghh sudahlah saya malas membahasnya. Intinya, jangan sok sokan didepan saya yang sebenarnya paling males akrab sama cowok, apalagi cowok sok dan cerewet

...

Dua perjalanan yang membuka pemikiranku ketika duduk berseblahan dengan dua wanita yang lebih tua dariku. 

Yaa akhirnya libur semester genap tiba, atas kelumitan perkuliahan dan percintaan yang biasanya saya tidak akan pulang kalau hanya libur pendek tapi kali ini saya harus pulang membuang rasa sakitku kala itu.

Saya duduk dengan senior dari kampus lain, bersuku toraja yang berarti dia non muslim. Saya pikir dia akan sama dengan wanita lain tapi ternyata dia ramah dan banyak cerita baik yang dia bagi selama di bis.

Dia yang telah menyelesaikan kuliahnya akhirny pulang ke kampung halamanya toraja, pacarnya sedari kuliah yang kini telah jadi tunangannyapun mengantarnya sampai di bis. Pacarnya yang berdarah tionghoa tidak menjadikan keluarganya sulit menerima dia. Selain membagi kisahnya dengan pacarnya, si kakak juga berbagi kisah tentang adik kosnya yang kena kangker. Betapa kawatirnya dia yang sekarang harus meninggalnya sendirian di kos.

Selain dari keramahannya, si kakak juga wanita yang loyal. Di saat persinggahan istirahat, kakak mentraktir makanku padahal kita berbeda agama dan suku. Terima kasih kak, maaf saya lupa namamu tapi semoga kamu hidup dengan baik aamiin.

...

Nah ini adalah yang paling menarik untukku, bagaimana tidak. Saya berkenalan dengan gadis muda yang gayanya bebas. Rambutnya coklat pirang diikat acak acakan, hoodienya pendek setengah pinggul, jeansnya sobek, ada tindik di lidahnya, telinganyapun begitu, pekerjaannya cheersleader dan dia perokok.

Saya tetap menilainya pasti dia wanita baik, asal jangan macam macam saja. Dan iyaa dia memang baik. Dia banyak berkisah tentang dirinya yang lolos tsunami lombok dan kini dia harus mengalami tsunami palu tapi syukurlah dia kembali selamat.

Dia bilang "orang orang sering mendjuge dia penuh dosa makanya itu dia selalu kena musibah, dia harusnya bertaubat karena terus diberi kesalamatan" namun bukan itu yang buat saya berpikir terbuka

Tapi, gaya dan kebebasan orang bukan dinilai dari caranya berpekaian, pekerjaan, dan kebebasan mereka tapi dari hati mereka yang baik. Gaya bisa saja bebas tapi kebaikan tetap ada di diri mereka.

Malah selama di perjalanan saya bersyukur bersama kakak itu, saya merasa ada yang menjaga saya walau dia terkadang wellcome sama pria di bis tapi tidak menjadikan pria itu bisa bebas sama saya. 

Terima kasih kak yang lagi lagi saya lupa namanya, atas kebaikan telah mentraktir saya dan paling luar biasanya membuka pikiran saya. 

...

Dan ini adalah yang entah apakah perjalanan terakhir dalam bis atau tidak, tapi sampai sekarang ini adalah perjalanan bis terakhir. 

Betapa seringnya saya mendengar cerita mama tentang lorong bis yang full dengan barang barang kiriman sampai sampai tidak ada lagi jalanan untuk penumpang. Yaa itulah yang saya rasakan.

Saya duduk di kursi 20an paling belakang, terhimpit dengan tumpukan berkarung karung barang kiriman untuk dijual kembai. Ditumpuk hingga seukurna tinggi kepala kursi. Jadi cara kami berjalan untuk keluar bis yaa menginjak atau merangkak barang barang itu. Lumayan susah tapi itulah suka duka menyenangkan menyebalkannya naik bis.

...

Saya tetap menikmatinya, karena dalam bis adalah bagian dari perjalanan seru. Bertemu bapak ibu, tua muda yang berbeda karakter dan kisah. Terlebih pemandangan indah dibalik jendela bis. Walau itu sebuah jurang yang dalam dan tebing yang menjulang.

Komentar