Lima Pertanyaan Esensial Yang Perlu Ditanyakan Ke Diri Kita Sendiri


mengcopy dari postingan kak Gita Savitri yang judulnya "Refleksi Akhir Dekade"  ya jadi ikut mengingat-ingat juga dan pertanyaan-pertanyaan ini memang baik untuk refleksi diri. semua pertanyaan bukan untuk mengorek luka lama tapi ada dua hal yang baik:
1. pertama, bisa jadi terapi penyembuhan luka lama atau trauma, dan
2. kedua, apa kita bisa bersyukur atau memetik hikmahnya?

mengutip tulisan kak Gita "lima pertanyaan esensial yang perlu ditanyakan ke diri kita sendiri sebagai bentuk refleksi atas apa saja yang udah kita lalui hampir 10 tahun terakhir ini"


What were three to four highs and three to four lows?
(Apa yang tertinggi tiga sampai empat dan tiga sampai empat terendah?)

apa yang saya rasakan sekarang malah semakin bodoh amat atau membiarkan begitu saja pada semua yang terjadi-tadi sampai ke tahun tahun sebelumnya. jadi, efeknya hati jadi makin enteng. tidak ada perasaan berat mengingat kejadian-kejadian apapun itu termaksud trauma masa lalu. tapi, buruknya saya malah seperti merasa kejadian-kejadian itu tidak pernah ada. entah apakah ini efek dari trauma dan cara saya mengobati membuatnya seolah tidak pernah terjadi. tapi jujur saja, setelah bertahun-tahun untuk menceritakannya kembali yaa memang jadi lebih enteng

kejadian ini lebih sering membuat saya sakit dan teringat kembali ketika zaman sekolah, sekolah menengah pertama dan sekolah menengah akhir. kejadian ini terjadi waktu di sekolah dasar, bullying. sampai sekarang saya tidak tahu apakah ini termasuk bullying atau tidak-saya memang bodoh dalam menyadari apakah ini sebuah kejahatan atau tidak. tapi diskriminasi yang dilakukan teman-teman dan dua orang guru dari kelas 3 sampai kelas 6 jadi sebab karakterku yang tertutup dan pendiam terbentuk hingga sekarang.

ditambah lagi, pola pendidikan mama dirumah yang keras. tidak bisa menyesuaikan karakter anak keduanya ini yang berbeda. tidak harus di didik manja, tapi benarnya didik lah sesuai karakternya yang lebih ke seni. tapi, disisi lain ketika umur semakin bertambah saya sadar. saya tidak bisa menyalahkan pola didikan mama, karena mama juga seorang ibu yang baru belajar mendidikan anak-anaknya. bukan hal yang mudah memang.

dulu saya paling membenci mengingat kenangan waktu sekolah dasar bahkan jadi malas ketemu teman-teman sd. rasa benci dan trauma sangat terpatri di dalam hati dan ingatan. syukurnya, lambat laun dimulai sekolah menengah akhir, ketika akhirnya punya sahabat (yang baik dan setia) seperti obat penyembuhan trauma dan kebencianku. hingga di jenjang perkuliahan, roda kehidupa berputar mempertemukan teman-teman yang apa adanya tanpa banyak embel-embel tapi punya solidaritas tanpa batas. trauma dan kebencian jadi seperti noda yang terus menghilang tanpa bekas.

setelah bisa memaafkan kejadian-kejadian bullying dan diskriminasi ketika sekolah dasar, masih ada lima kejadian terpuruk yang duanya masih menghantui. merasa diri ini tidak berguna, bukan bullying atau diskiriminasi. dua kejadian ini privasi dan tiga kejadian nya seperti mengarah ke tindakan kurang menyenangkan dari mereka.

mungkin baiknya disisi lain dari karakterku, setelah seminggu atau paling cepat tiga hari dari kejadian itu saya bisa seolah tidak terjadi apa-apa tapi perasaan jijik pada kejadian itu tetap akan teriniang. tiga kejadian pada tindakan kurang menyenangkan itu yang pertama ketika didalam bis.

waktu jadi anak perantauan ketika kuliah, keluargaku adalah keluarga yang tidak mau memanjakan anak-anaknya. jadi selama kembali ke kampung halaman saya akan selalu naik bis dengan perjalanan satu hari satu malam. setelah beberapa kali naik bis, baru kali ini saya duduk bersebrangan kursi dengan seorang pria sekitar berusia seumuran dengan saya waktu itu, 19 tahunan. diawal perjumpaan dia ramah tapi semakin lama dia menunjukan wujudnya yang bangsat. cukup, saya tidak ingin meneruskannya. karena saya masih merasa jijik. pelajaran yang saya dapat dari kejadian ini, jangan pernah biarkan diri kamu duduk disebelah seorang pria. entah dia anak muda, seumuran atau tua. duduklah di sisi kiri kanan mu dengan seorang wanita atau bahkan depan dan belakangmu pun seorang wanita. untuk menghindari tangan-tangan atau gerak tubuh jahilnya mereka.

tiga kejadian pada kejadian yang kedua, terjadi dirumah yang saya tempati. saya tidak bisa menjelaskan secara detail tempatnya karena saya masih menghargai untuk diprivasikan. kalau dalam tindak pidana, kasusnya sama tindakan kurang menyenangkan dari seorang anak cowok. entah apakah dia memang bermaksud tidak baik atau sekedar jahil tapi apa yang dia lakukan itu membuat saya ketakutan setengah mati. mungkin saja kalau sampai hal lain terjadi, sudah pasti saya akan membutuhkan psikolog. pelajaran yang saya dapat dari kejadian ini, saya akhirnya berhijrah. perlahan mulai berbusana yang tertutup. walaupun didalam rumah yang tertutup dan bersama keluarga.

tiga kejadian pada kejadian yang ketiga ini-semoga ini kejadian terakhir pada kasus tindakan kurang menyenangkan yang saya rasakan. tapi dari kejadian ini, saya menyadari menjadi seorang wanita tidaklah mudah. harus baik baik menjaga diri, bukan hanya ingin tampil cantik dan gemulai. tapi diri seorang wanita ibarat emas yang menggiurkan. walaupun kita tidak menggoda mereka yang hanya diam membantu tapi, kenyataan ada beberapa laki-laki yang punya karakter dan otak bangsat. seperti saya bilang tadi, meskipun kita hanya diam membantu tidak menggoda mereka, kalau bertemu dengan laki-laki seperti itu mereka akan membuat tindakan kurang menyenangkan. sekali lagi saya katakan, menjadi seorang wanita tidaklah mudah dan menjaga diri itu suatu keharusan-kita dipaksa harus menjaga diri! saya akan mengapresiasikan pada laki-laki yang tidak memiliki otak dan karakter bangsat(mesum). pelajaran yang saya dapat pada kejadian ini, jangan pernah mau berjalan dengan pria yang baru dikenal walau dia seorang dari kenalan dekat temanmu. tidak semua lelaki bisa dipercaya. pilih-pilih atau sama sekali jangan beri ruang. 

kira kira apa three for four highs saya? sebenarnya ada, tapi karena sekarang bahagia maupun menyakitkan saya perlakukan sama. sama-sama dibuat biasa saja, jadi seperti lupa highs saya apa

mungkin saya belum menemukan kenyamanan dalam hidup yang saya jalani, jadi pencapaian-pencapaian ini ibarat sudah seperti inilah takdir dan hasil dari doa atau usaha yang saya lakukan. sayangnya pencapaian ini bukan dari hal yang saya suka, itu semua seperti arus yang saya ikuti saja. saya memang manusia biasa yang sangat bodoh, silahkan anggap saya tidak bersyukur. 

yah, seharusnya pertanyaan tentang lows saja.




What enabler or motivated you to reach those highs, and how did you successfully move through the lows?
(Apa yang memungkinkan atau memotivasi Anda untuk mencapai titik tertinggi itu, dan bagaimana Anda berhasil melewati posisi terendah?)

lagi-lagi pertayaan yang pertama sesuai pada pertanyaan pada diri saya sendiri akhir-akhir ini. saya selalu suka membuat jadwal dan impian-impian yang ingin saya gapai, dua hal itu selalu membuat saya berapi-api semangat. mengingat sebab orang-orang yang harus saya banggakan dan betapa bangganya mereka pada saya nantinya. 

tapi sifat yang selalu berapi-api diawalnya dan akhirnya malah bodoh amat ini, selalu terjadi. yang tadinya saya selalu berapi-api untuk jadi pegawai negeri, membayangkan betapa senangnya mereka tapi lagi lagi saya bertanya pada diri saya sendiri "ini impianmu?" "ini membuatmu nyaman atau tidak?" "ini tidak akan membatasimu kan?" selalu saja saya kembali mempertanyakan pada diri saya juga yang berujung pada jawaban yang sama "ini bukan yang saya mau". dan secara otomatis, saya kembali bermalas-malasan. tidak ada motivasi yang manjur.

saya mulai lelah yang hanya mengikuti arus sungai, entah ujungnya apakah terjun curam yang ketikanya jatuh ibarat jatuh pada kejayaan hasil dari manggut-manggut ikut arus. tapi saya sudah sangat lelah pada hidup dan diri saya sendiri. saya menyerah.

unuk melewati kejadian-kejadian menyebalkan tadi, ketika masih menjadi bocah 11 tahun tentu bukan hal mudah. bukan tenaga yang saya kuras untuk menghilangkan trauma dan kebencian itu, tapi lebih ke perjalanan dan pertemuan orang-orang baik yang kini jadi teman baikku. merekalah yang membuat saya terus dan terus open minded dan rendah hati pada semua yang terjadi termasuk trauma dan kebencian-kebencian itu.

terkhusus untuk tindakan kurang menyenangkan yang saya dapatka, pemulihan ini beda dengan trauma bullying yang saya dapatkan. penyembuhannya harus ke dalam diri saya sendiri, itulah titik utamanya. menerima kejadian itu sebuah teguran untuk pendewasaan dan open minded lalu memaafkan diri sendiri agar bisa hidup tanpa adanya sakit gangguan mental. walau terkadang ketika kejadian itu mengusik lagi bagian dari dalam diri saya bilang "hubungi psikolog!" tapi untungnya ada agama saya yang menguatkan. terima kasih ya Allah Swt.

What worked and didn’t work? What do you need to do more and less of?
(Apa yang berhasil dan tidak berhasil? Apa yang perlu Anda lakukan semakin banyak?)

sampai di pertanyaan ketiga ini, saya sadar. saya punya diri sendiri yang harus selalu saya ingat, yang punya bagian dari hidup ini juga. diri sendiri yang lebih banyak berusaha untuk tubuh yang dia bawa ini untuk tetap menjalani hidup, yang berhasil mewujudkan si saya yang pemimpi. berhasi, mewujudkan impiannya punya ruangnya sendiri untuk melakukan apapun yang dia suka dalam hal seni. dcinnamonli. hal yang ibarat menghilangkan kepenatan didunia nyata dan didn't worknya, kadang saya yakin dan tahu saya butuh psikolog tapi bukan karena saya gila. tapi masih ada bagian dari masa lalu yang tidak bisa saya obati sendirian dan ini mengenai kejiwaan bukan spiritual. banyak, kabur, hubungan, bunuh diri, masa lalu buruk, sulam yang membutuhkan komunikasi dan sharing ke wujud yang lebih nyata untuk melihat responnya. 

so, what do i need to do more and less of adalah memahami diriku sendiri. perlahan, satu-satu, jangan sampai melupakan diri sendiri, mengacuhkannya atau bahkan menyakitinya seperti dulu. 

What stressed you out the most and how could you navigate it better?
(Apa yang paling membuat Anda stres dan bagaimana Anda bisa menavigasinya dengan lebih baik?)


dua lagi kenyataan menyebalkan yang saya dapat, pertama. perubahan seorang teman dekat yang menurutku dia selalu menyindir dibelakang kami. saya tahu sifatnya dan saya harap itu hanya bercandaan. kedua, kenyataan pahit dari seorang teman baikku. kenapa?! kenapa dia?! saya harap itu hanya terjadi pada saya. tapi pada dua kenyataan ini mengajarkannya saya, bahwa beginilah hidup. berhentilah menjadi orang polos dan bodoh. seperti politik diistana mereka, apa yang tidak pernah terpikirkan di otakmu akan terjadi, siap atau tidak beginilah liciknya dunia politik. 

inilah dunia, siapapun kamu. kamu akan merasakan dan mengalaminya, kalau tidak kuat iman. jadilah rumah yang kuat pondasinya. dan saya semakin harus menerimanya dengan biasa saja pada karakter orang-orang yang menyebalkan tapi tetap menganggap selalu ada sisi baik atau sisi lain yang harus tetap kita terima dan, inilah dunia. mendengarkan berita baik atau tidak enak, sudah seperti bumbunya hidup. makan saja, jangan pilih-pilih dan teruslah jalani hidupmu


What were you most grateful for in 2019, and how can you take that into 2020?
(Apa yang paling Anda syukuri pada 2019, dan bagaimana Anda bisa memasukkannya ke tahun 2020?)

saya mendapatkan pekerjaan setelah tiga bulan menganggur di september 2018 dengan gaji yang alhamdulillah cukup untuk seorang perempuan single, tercapai ruang sendiri untuk mengekspresikan diri saya. dan semoga tahun ini saya mendapatkan pekerjaan yang lebih terikat-punya gaji pensiun. saya masih bergantung pada rencana Allah, saya masih percaya pada rencananya-saya sudah lelah. dan menemukan satu demi satu puzzle puzzle diri saya.

untuk mengakhiri tulisan ini, jangan sampai kita kehilagan diri kita sendiri. sertakan agama didalamnya walaupun kamu punya karakter yang bebas. setidaknya ada agama yang menyeimbangkannya dan mengingatkanmu. 

harusnya saya berterima kasih pada pertanyaan-pertanyaan ini terutama pada kak gita savitri, tanpa dia saya pembacanya tidak akan tahu pertanyaan magic ini
kedua perjalanan hidup ini
ketiga orang orang dalam perjalanan hidup ini
keempat diri sendiri.

 
 



Komentar