Tiga Pertanyaan Untuk Selamanya-Dwi Uli

Tiga Pertanyaan Untuk Selamanya

dari
di Medium

sekarang saya lagi-lagi percaya pada pertanyaan yang dilemparkan ke diri kita ibarat secuil pertanyaan untuk menyelami diri sendiri, juga hidup. hal baik lainnya, hal menyenangkan bisa punya banyak akun dimedia tulisan seperti blog, medium etc. kembali ke diri kita bagaimana bisa mengatur akun akun ini supaya bisa sering-sering dibuka tapi bukan sekedar scroll tapi dibaca tulisan tulisan dari penulis yang ada.




pertanyaan pertama 1. bagaimana kamu ingin dicintai

saya ingat ingat, diumur kepala dua tidak bisa bohong jadi gadis polos yang sok tidak tahu soal cinta. pacaran dan mantan kemari pasti adalah pelajaran yang ditinggalkan, bukan cuman pahitnya. lalu bicara soal bagaimana ingin dicintai, pertanyaan ini ibarat kita ditanyakan "kamu maunya apa?" sedikit membingungkan tapi paling diinginkan untuk ditanyakan

mungkin setelah perjalanan cinta yang banyak embel-embel dan monyet-monyetnya, simpel saja. dicintai apa adanya, busuknya diterima, sakitnya diterima, jeleknya diterima, anehnya diterima, kesalahannya diterima, dan astaga! apakah saya sedang melakukan ajang pencarian jodoh? sampai harus mengatakan itu semua?

entahlah, seketika saya berpikir. membahas soal ini seperti sedang pada tahap penikahan. tapi membayangkan pertanyaan ini utuk pernikahan, saya jadi bingung. beberapa dari kita memutuskan menikah apakah benar-benar karena cinta yang diinginkan atau pelaria dan tujuan-tujuan lainnya...

pertanyaan sepertinya semakin melenceng.. sudahah, saya ingin dicintai apa adanya atas kerendahan hatinya yang tidak banyak embel-embelnya dan tentunya dia bukan monyet. saya tidak membutuhkan lagi cinta monyet dengan embel-embelnya.

setelah apa adanya bisa dia tunjukan, saya masih harus tetap menilainya. dan itu cukup saya yang tahu, peniaian apa itu.

2. “Apa yang membuat kamu terbangun di Pagi hari dan bersemangat menjalani hidup?”

otak saya buntut, saya sedang menyerahkan segala diri dan hidup ku pada arus sungai. saya berharap atas kepatutanku ini, hidup saya berakhir pada terjunan yang membawa pada kejayaan. saya memang lebih suka berharap atau tepatnya bergantung harapan pada yang lebih tetuah. paham? jalani saja sesuai arusnya, itu maksud saya.

jadi saya tidak punya alasan untuk pertanyaan kedua, saya hanya sedang mengikuti arus. sudah.


3. Orang-orang seperti apa yang kamu inginkan dalam hidup kamu hingga kamu tua nanti?

tentu saja orang-orang yang tanpa embel-embelnya, yang terlalu banyak bacot dan gerak tammbahan. saya menginginkan orang-orang yang punya tutur kata tidak menyinggung walaupun caranya melawati sedikit kotor-tidak masalah. saya menginginkan orang-orang dengan gerak tambahan yang tidak banyak cincong demi pencintraan.

sepertinya sejak mengenal karakter manusia dibumi ini, bukan hanya dihari tua yang saya inginkan ketenangan tapi dimulai saat mengenal karakter manusia dibumi.

sudah cukup saya lelah pada diri sendiri yang sulitnya diatur untuk bisa menjadi manusia yang aman dan tenang.

...

cukup, jawaban ini tidak memberikan kepuasan hanya menambah rumit. jawaban di kak dwi uli yang lebih tepat untuk dibaca silahkan dibaca

Komentar