yang Terbaik atau yang Nyaman?

https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fsuryamalang.tribunnews.com%2F2019%2F10%2F14%2Fchord-lagu-nyaman-single-terbaru-andmesh-kamaleng-cocok-untuk-pemula-lengkap-dengan-liriknya&psig=AOvVaw3PbUi2C9j5VbiG-f-C_IV5&ust=1583328934682000&source=images&cd=vfe&ved=0CA0QjhxqFwoTCIDvw5K2_ucCFQAAAAAdAAAAABAP

Dulu kalau ada yang Tanya, mau dapat pasangan yang bagaimana? Maksudnya mungkin bagaimana karakternya, bagaimana pekerjaannya, bagaimana embel embel lainnya yang bukan hanya bibit bobot bebet bubut tapi juga silisilah keluarga, dimulai dari sesepuh. Harus detail dalam menetukan jodoh karena ini menyangkut masa depan dan hidup sampai mati.

Jawaban saya dulu bermacam-macam. Walaupun waktu itu usia saya masih belasan tapi saya sudah bisa menjawab pertanyaan ini atas pengalaman dan pengamatan, menjawabnya dengan mantap. Saya akan memilih suami yang rajin sholat dan punya pekerjaan yang bisa menghasilkan uang lebih banyak dari orang tuaku. Lalu diusia 18 tahunan, jawaban saya pun berganti. Alasannya karena pengalaman sudah bertambah apalagi soal pacaran dan menilai lelaki mungkin sayapun sudah hatam. Saya tidak akan lagi memilah dan memilih karakter mana yang paling baik didunia tapi pekerjaan tetap harus yang bisa menghasilkan uang lebih banyak dari orang tua, intinya saya akan memilih yang terbaik saja untuk saya.

Akhirnya jawaban itu kembali berganti, tiga hari yang lalu saya mantap hanya membuat satu pilihan untuk memilih suami. Nyaman, hanya satu itu yang akan saya pilih. Begitu sulit sekarang mendapatkan manusia-manusia yang apa adanya, beberapa semakin bertambah zaman malah lebih terlihat seperti sorotan di instagram. Ingin menjadi manusia yang keren (dalam menurut mereka) tapi malah tidak bisa menjadi apa adanya atau malah membuat tidak Nyaman.

Atas dihadapkan dengan salah satu kenalan inilah yang membuat saya berpikir kembali, yaa saya akui dia bisa menjadi terbaik yang saya idam idamkan dulu. Tapi pemikiran malah terbagi semakin berpikir berulang kali. 

Entah saya sedang dihadapkan dengan yang terbaik untuk saya seperti yang saya idam-idamkan dulu, tapi ternyata, percuma saja dia yang akan menjadi terbaik untukku tapi saya tidak memiliki rasa Nyaman dalam menjalaninya. Orang lain mungkin nyaman sama saya, tapi saya bisa saja tidak-karena saya yang fleksibel. Dia mungkin terbaik untuk saya, tapi saya bisa saja bukan yang terbaik untuknya.

Setelah di pikir-pikir, ketika saya mencari yang terbaik. Saya baru sadar, hei! Semua manusia didunia ini pastilah terbaik. Begini, mana mungkin kita akan mengatakan diri kita tidak baik dan pasti kita akan bilang diri kita ini pun terbaik. Seperti hal yang sering terjadi

“sudah jangan menangis, dia bukan yang terbaik untukmu, dan kamu akan dapatkan yang terbaik karena kamu baik

Perkataan ini sangat jelas maksudnya kalau kamu yang terbaik, tapi dia yang kamu anggap bukan terbaik, pecayalah dia pun akan punya kekasih terbaik pilihan Tuhan yang membuatnya akan terbaik juga. Sama halnya lagi dengan sifat baik, semua manusia punya sifat baik sekalipun dia pernah berbuat jahat tapi saya percaya masih ada kebaikan didalam hatinya. Jadi semua manusia baik dan semua manusia terbaik!

Oh ayolah, berhentilah cari yang terbaik! Karena semua orang itu terbaik!

Dan kenyamanan itulah yang paling sulit-untukku. Nyatanya, untuk mencari yang terbaikpun pasti akan didapat-karena semua manusia itu terbaik. Kenyamananlah yang menjadi sulit untuk didapat dan itu hal yang mahal. 

Aku yang sedang mencari terbaik akan dihadapkan 10 terbaik-semua manusia terbaik dan pastinya mereka merasa dirinya terbaik (itu haknya mereka). bisa saja 10 terbaik ini sekedar menjadi terbaik dihadapkanku tapi sayang tidak bisa memberikan kenyamanan dihatiku. 

Jadi tetap akan cari yang terbaik?

Beberapa kisah pernikahan yang saya dengar, salah satu alasan mereka menerima pasangannya karena Nyaman, kedua nyambung. 

Dan bagiku lagi, hasil dari kenyamanan bisa membuat kita Apa Adanya. 

Nyaman itu mahal dan Apa Adanya itu sulit      cuy!!

Tapi perlu digaris bawahi, mungkin ada yang sempat berpikir. Yang tidak terpilih tapi dialah yang terbaik bukan berarti dia tidak terbaik pada sifatnya, untuk diriku atau dia punya kekurangan. BUKAN!! Misalnya, pada salah satu sahabatku, dia itu orang nya to the point, sedikit ceplas ceoplos. Mungkin ada orang yang tidak nyaman dengan caranya bicara, kalau mau liat itu sebagai kekurangan iya bisa. Tapi sayangnya, saya Nyaman sama dia. Tapi atas karakterknya bukan berarti dia bukan yang terbaik, tapi nyatanya atas karakterknya itu saya Nyaman, karena dia tetap Apa Adanya.

Misalnya lagi, di salah satu kenalanku. Dia orangnya care dan sering memberikan gift tapi sayang dia kadang nyindir dibelakang. Kita bisa liat dua sifat lebihnya dan dia tetap yang terbaik tapi sayangnya dia tidak bisa membuat saya Nyaman.

Misalnya yang lain lagi, salah satu kenalanku lagi. Dia baik, dia dewasa walaupun usianya satu tahun lebih muda dari saya, dia rajin sholat, dia mapan tapi caranya berbicara yang punya 30% agak tinggi. Dia tetap yang terbaik atau banyak point plus yang dia punya tapi sayangnya dia tidak membuat saya Nyaman.

Mereka semua terbaik, karena memang mereka terbaik. Atas kurangnya itu tidak menjadikan saya membenci atau merendahkan atau mengatakan itu kekurangan tapi penggambaran atas yang membuat saya tidak nyaman. tapi mereka tetap menjadi dirinya, seperti itulah diri mereka. (hanya saya saja yang tidak nyaman)

Jadi meskipun ada yang berkenalan dengan masa lalu buruk, susuah, to the point tapi langsung di depan, bisa saja saya lebih memilih mereka karena Nyaman. Atas Apa Adanya mereka juga.

Komentar